Hati Hancur! Widia Jadi Korban Longsor Cisarua Sehari Setelah Ultah
Tragedi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menyisakan duka mendalam.
Widia Dwi Aryanti, seorang gadis berusia 15 tahun, harus meregang nyawa di tengah bencana. Ironisnya, takdir menjemputnya hanya sehari setelah ia merayakan ulang tahunnya, meninggalkan kesedihan tak terhingga bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Dapatkan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya yang memperluas wawasan Anda hanya di Indonesia Darurat.
Pusara Di Bawah Bayang-Bayang Burangrang
Di tengah langit mendung dan angin kencang dari Gunung Burangrang, enam pria dengan alat cangkul menimbun tanah di atas pusara Widia. Gadis belia itu kini bersemayam di tempat peristirahatan terakhirnya, bersebelahan dengan pusara ibu dan kakeknya yang juga menjadi korban longsor.
Pemakaman Widia Dwi Aryanti pada Senin (2/2/2026) siang itu diwarnai suasana haru. Nisan kayu sederhana bertuliskan tanggal lahirnya, 23 Januari 2001, menambah pilu hati para pelayat. Sebuah tanggal yang kini dikenang dengan getir, sehari sebelum hidupnya direnggut bencana.
Kesedihan itu semakin terasa mendalam bagi teman-teman sekolahnya. Mereka datang mengenakan seragam lengkap, berjongkok di samping pusara Widia, dan tak kuasa menahan tangis. Bocah-bocah itu saling menguatkan, mencoba menahan air mata seraya mendoakan mendiang sahabatnya.
Duka Mendalam Sahabat Dan Harapan Yang Kandas
Sabrina, salah seorang teman sekolah Widia, mengungkapkan kesedihannya yang teramat sangat. “Sedih banget, enggak nyangka dapat kabar ini. Dia orang baik,” ucapnya dengan suara bergetar, menggambarkan betapa kehilangan mereka atas sosok Widia.
Pertemuan di hari Jumat menjadi kenangan terakhir Widia dengan teman-teman sekelasnya di MTs Al Amin, Desa Pasirlangu. Peringatan ulang tahunnya yang ke-15, yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan, kini menjadi kenangan terakhir yang takkan terulang.
Banyak rencana dan harapan yang kini harus terkubur bersama Widia. Kami sudah menyiapkan banyak rencana, mulai dari buka bersama saat puasa hingga bermain bersama. Tapi ternyata ada longsor, enggak nyangka sampai sekarang jug, kenang Sabrina, mewakili rasa tak percaya yang masih menyelimuti.
Baca Juga: Update Longsor Bandung Barat, 10 Korban Meninggal Kembali Ditemukan
Ganasnya Longsor Dan Pencarian Tanpa Henti
Widia adalah salah satu korban keganasan longsor dari Gunung Burangrang yang terjadi pada 24 Januari 2026. Ia, bersama ibu dan kakeknya, tertimbun longsor saat tengah terlelap tidur, sebuah tragedi yang merenggut nyawa secara tiba-tiba dan tak terduga.
Seorang kerabat Widia mengatakan bahwa ibunya dan kakeknya telah meninggal, dan jenazah mereka sudah ditemukan. Tapi adik sama kakaknya masih dicari. Semoga anggota keluarga yang masih hilang bisa segera ditemukan. Doa dan harapan terus mengalir untuk keselamatan mereka.
Operasi pencarian korban longsor berlanjut hingga hari kesepuluh, Senin (2/2/2026), di bawah bayangan mendung. Tim SAR Gabungan bekerja keras mengoptimalkan pencarian sebelum hujan kembali turun, berusaha menemukan sisa korban yang masih tertimbun.
Harapan Di Tengah Puing Dan Doa
Pencarian yang dilakukan sejak pagi membuahkan hasil. Tim SAR menemukan tiga “body pack” yang segera dibawa ke posko Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi. Penemuan ini membawa sedikit harapan di tengah duka.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengonfirmasi penemuan tersebut. “Tim menemukan 3 body pack. Kemudian sudah diserahkan ke posko DVI,” jelasnya, menunjukkan kemajuan dalam upaya pencarian dan identifikasi korban.
Dengan penambahan tiga “body pack” ini, total korban yang ditemukan tertimbun longsor di Cisarua mencapai 79 orang. Namun, satu korban lagi masih dalam pencarian, menyisakan doa dan harapan agar semua dapat ditemukan dan keluarga dapat berduka dengan tenang.
Selalu pantau berita terbaru seputar Indonesia Darurat dan info menarik lain yang membuka wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar pertama dari detik.com
- Gambar Utama dari patrolmedia.co.id