Banjir bandang melanda Sitaro, Sulut, menewaskan 11 orang dan 5 lainnya hilang, Tim SAR masih berjibaku di tengah cuaca ekstrem.
Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Banjir bandang yang datang tiba-tiba menerjang permukiman warga, merenggut 11 nyawa dan menyebabkan lima orang hingga kini belum ditemukan.
Di tengah lumpur, puing bangunan, dan cuaca yang belum bersahabat, tim SAR terus berjuang mencari korban yang diduga masih tertimbun material banjir. Temukan informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Indonesia Darurat.
Banjir Bandang Siau Tinggalkan Duka Mendalam
Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat. Peristiwa yang terjadi pada Senin, 5 Januari 2026, itu datang secara tiba-tiba setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Arus air bercampur material lumpur dan puing bangunan menerjang permukiman warga, menyebabkan kerusakan parah serta menelan korban jiwa. Hingga Senin malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 11 orang.
Dari total tersebut, enam korban telah berhasil diidentifikasi, sementara lima lainnya masih dalam proses pendataan lebih lanjut oleh petugas berwenang.
Lima Warga Masih Dalam Pencarian Tim SAR
Selain korban meninggal dunia, bencana ini juga menyisakan ketidakpastian bagi lima warga yang hingga kini dinyatakan hilang. Tim Search and Rescue (SAR) terus melakukan upaya pencarian di lokasi terdampak.
Namun, proses evakuasi dan pencarian sempat terkendala oleh kondisi cuaca yang belum stabil. Hujan lebat yang kembali turun di kawasan bencana meningkatkan risiko banjir susulan serta longsor, sehingga tim harus bekerja ekstra hati-hati demi keselamatan personel.
Meski demikian, pencarian tetap dilanjutkan dengan mengerahkan berbagai unsur, termasuk BPBD, TNI-Polri, relawan, serta masyarakat setempat.
Baca Juga: Detik-Detik Banjir Terjang Sitaro, Air Datang Dengan Gemuruh Mengerikan
Ratusan Warga Mengungsi, Empat Kecamatan Terdampak
Dampak banjir bandang ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka. BNPB melaporkan sebanyak 143 kepala keluarga atau sekitar 444 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, wilayah terdampak meluas hingga empat kecamatan, yakni Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga hanyut terbawa arus, sementara fasilitas umum juga ikut terdampak.
Untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, pemerintah daerah membuka pos pengungsian sementara di Gedung GMIST Bethbara. Di lokasi tersebut, warga mendapatkan bantuan berupa alas tidur, perlengkapan anak-anak, serta makanan siap saji.
Status Tanggap Darurat Ditetapkan Selama 14 Hari
Merespons situasi darurat tersebut, Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Penetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 1 Tahun 2026 dan berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 5 Januari hingga 18 Januari 2026.
Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan bencana, termasuk pemulihan akses jalan yang terputus akibat material banjir. BPBD Kabupaten Siau bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum serta Dinas Lingkungan Hidup telah memobilisasi alat berat seperti excavator dan wheel loader ke lokasi terdampak.
Proses pembukaan akses akan dilakukan segera setelah kondisi cuaca dinilai aman. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama.
Terus update dirimu dengan informasi menarik setiap hari, eksklusif dan terpercaya di Indonesia Darurat agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari nasional.kompas.com
- Gambar Kedua dari tribunnews.com
