Warga Bogor kecewa setelah BisKita kembali berhenti beroperasi, Wakil Wali Kota Bogor angkat bicara dan menyampaikan permintaan maaf.
Harapan warga Bogor untuk menikmati layanan transportasi publik yang nyaman kembali diuji. BisKita, yang sempat menjadi andalan mobilitas masyarakat, kembali berhenti beroperasi.
Situasi ini memicu kekecewaan luas, terutama bagi warga yang bergantung pada layanan tersebut untuk aktivitas harian. Apa penyebab terhentinya layanan ini dan bagaimana respons pemerintah kota? Simak penjelasan lengkapnya dalam Indonesia Darurat berikut.
Permintaan Maaf Pemkot Bogor Atas Terhentinya BisKita
Penghentian sementara layanan transportasi BisKita Transpakuan kembali memicu kekecewaan warga Kota Bogor. Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
Ia mengakui bahwa Pemerintah Kota Bogor belum maksimal dalam menyampaikan informasi kepada publik terkait kondisi yang menyebabkan layanan tersebut terhenti. Menurut Jenal, kurangnya sosialisasi membuat warga tidak siap menghadapi jeda operasional transportasi publik yang selama ini menjadi tumpuan mobilitas harian.
Ia menyadari bahwa komunikasi pemerintah perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
BisKita Dipastikan Kembali Beroperasi Dalam Waktu Dekat
Meski sempat terhenti, Jenal memastikan bahwa layanan BisKita Transpakuan tidak akan berhenti dalam waktu lama. Ia telah menginstruksikan Sekretaris Daerah Kota Bogor untuk mempercepat seluruh tahapan administratif yang dibutuhkan agar operasional dapat segera berjalan kembali.
Pemerintah kota menargetkan proses persiapan dapat dimulai dalam pekan yang sama. Dengan percepatan tersebut, diharapkan masyarakat tidak perlu terlalu lama menunggu kembalinya layanan transportasi massal yang dinilai penting bagi aktivitas ekonomi dan sosial warga Bogor.
Baca Juga: Sungai Aek Doras Meluap Lagi, Warga Sibolga Diminta Tetap Waspada
Kendala Teknis Dan Regulasi Jadi Penyebab Utama
Jenal menegaskan bahwa penghentian layanan BisKita tidak disebabkan oleh masalah anggaran maupun komitmen pemerintah daerah. Program Buy The Service (BTS) yang menjadi dasar operasional BisKita memang mengharuskan adanya proses lelang ulang sesuai ketentuan regulasi.
Untuk tahun anggaran 2026, Pemkot Bogor bahkan telah menyiapkan dana yang lebih besar dan merencanakan penambahan jumlah koridor. Namun demikian, proses lelang menjadi tahapan wajib yang tidak dapat dilewati, sehingga jeda layanan tidak terhindarkan.
Menurutnya, persoalan ini bersifat administratif dan teknis, bukan kebijakan untuk menghentikan layanan.
Kontrak Tahunan Picu Kekosongan Layanan Sementara
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto, menjelaskan bahwa operasional BisKita berbasis kontrak tahunan. Kontrak kerja sama terakhir berakhir pada 31 Desember 2025, sementara proses pengadaan penyedia jasa baru masih berjalan sejak awal Januari 2026.
Akibat belum ditetapkannya operator melalui mekanisme lelang, seluruh koridor BisKita mengalami kekosongan layanan, Hal ini menyebabkan bus tidak dapat dioperasikan hingga kontrak baru resmi ditandatangani. Sujatmiko menambahkan, setelah seluruh proses administrasi rampung, layanan akan segera kembali normal.
Pemerintah Kota Bogor berharap masyarakat dapat memahami situasi tersebut dan bersabar menunggu penyelesaian proses lelang. Jangan lewatkan update berita seputaran Indonesia Darurat serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari kompas.com
- Gambar Kedua dari kompas.com
