Ahli IT sebut harga Chromebook Rp 6 juta terlalu mahal, Sidang Nadiem jadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan.
Sidang Nadiem Makarim baru-baru ini menjadi sorotan setelah ahli IT menilai harga Chromebook Rp 6 juta terlalu mahal. Publik pun heboh dan ramai memperdebatkan apakah teknologi pendidikan ini benar-benar sepadan dengan harganya.
Indonesia Darurat ini akan membahas kronologi sidang, alasan harga dianggap berlebihan, serta reaksi masyarakat dan pakar pendidikan terhadap fenomena yang viral di media sosial.
Sidang Kasus Chromebook Dan Kritik Harga
Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026). Seorang ahli teknologi informasi dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Mujiono, dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menjelaskan kewajaran harga laptop tersebut.
Dalam kesaksiannya, dia menyatakan bahwa harga Chromebook yang tercantum di e‑katalog sebesar Rp 6 juta per unit dianggap “kelebihan” jika dibandingkan harga pasar yang seharusnya lebih rendah. Pernyataan ini memicu diskusi baru dalam persidangan mengenai nilai wajar anggaran pengadaan perangkat tersebut.
Pernyataan ahli ini menjadi titik penting karena menjadi dasar pertanyaan jaksa terhadap kewajaran harga dalam manifestasi. Kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim sebagai terdakwa.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Argumentasi Ahli IT Di Pengadilan
Saat ditanya oleh jaksa apakah harga Rp 6 juta wajar berdasarkan spesifikasi dan standar laptop sejenis, Mujiono menjawab bahwa harga tersebut terlalu tinggi. Dan tidak sepadan jika dibandingkan laptop dengan spesifikasi serupa di pasaran.
Mujiono menguraikan bahwa laptop Chromebook memiliki sistem operasi ringan yang banyak tugasnya dilakukan melalui cloud. Sehingga komponen dan spesifikasi fisik perangkat dasar sebenarnya lebih sederhana dibanding laptop tradisional. Hal ini menurutnya seharusnya membuat harga pasaran lebih rendah lagi.
Komentar ahli ini dimaksudkan untuk memberikan perspektif teknis kepada majelis hakim tentang apa yang dianggap wajar dan tidak wajar dalam pengadaan perangkat digital pendidikan, yang menjadi inti perkara sidang tersebut.
Baca Juga: Sempat Lumpuh Total! Jalan Bireuen–Bener Meriah Kini Sudah Bisa Dilintasi Kembali
Perbandingan Harga Pasar Dan E‑Katalog
Beberapa laporan pihak media dan sumber lain menunjukkan bahwa harga unit Chromebook di pasar sebenarnya bisa jauh lebih rendah. bahkan di kisaran Rp 3–4 juta per unit tergantung spesifikasi dan merek, sehingga perbandingan tersebut memperkuat kritik ahli.
Variasi harga ini menjadi penting karena tujuan penggunaan dalam proyek digitalisasi pendidikan adalah untuk perlengkapan dasar siswa, bukan perangkat super canggih. Harga tinggi yang tercantum di e‑katalog lantas dipertanyakan.
Ahli juga menjelaskan bahwa produsen dan penyedia di e‑katalog seharusnya mencerminkan harga pasaran wajar dan transparan, sehingga penggunaan harga acuan yang terlalu tinggi dapat menjadi salah satu indikator potensi kerugian negara.
Kontroversi Dan Implikasi Sidang
Kasus ini merupakan bagian dari perkara lebih besar yang melibatkan dugaan kerugian negara triliunan rupiah terkait pengadaan Chromebook dan perangkat Chrome Device Management (CDM) di era Nadiem menjabat menteri. Jaksa menduga terjadi markup harga yang menyebabkan kerugian signifikan bagi negara.
Sejumlah pengamat hukum mencatat bahwa kritik ahli tentang harga dapat menjadi elemen penting dalam pembuktian jaksa. Karena menunjukkan bahwa pengadaan tidak dilakukan dengan pertimbangan efisiensi anggaran negara. Namun, pihak pembela juga berpeluang menanggapi dengan konteks kajian kebutuhan spesifik pendidikan.
Selain itu, kritik ahli ini mencerminkan tantangan dalam pengadaan barang pemerintah dengan memperhitungkan baik kebutuhan teknis maupun aturan pasar. Sehingga menjadi preseden penting bagi sektor pengadaan pemerintah di masa depan.
Reaksi Publik Dan Politik
Respon di media sosial dan ruang publik langsung memuncak setelah sidang. Banyak yang menyatakan bahwa harga Chromebook terlalu tinggi dan mengejek keputusan pengadaan tersebut. Sementara sebagian lain menganggap pembahasan ini penting untuk akuntabilitas anggaran.
Debat tentang penggunaan Chromebook dan harga yang dibahas juga mencerminkan kekhawatiran publik terhadap proyek digitalisasi pendidikan yang melibatkan dana besar. Beberapa pihak menilai bahwa transparansi harga adalah hal yang esensial untuk kepercayaan publik terhadap pengadaan pemerintah.
Kasus ini juga terus menjadi sorotan karena terkait langsung dengan figur publik terkenal, Nadiem Makarim, yang sebelumnya menuai kritik dan pujian atas kebijakannya di sektor pendidikan. Sidang tersebut diprediksi akan terus menarik perhatian hingga putusan akhir.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari law-justice.co
